๐—ฆ๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ต ๐—ž๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—”๐—ป๐˜๐—ฟ๐—ผ๐—ฝ๐—ผ๐˜€๐—ฒ๐—ป

Seorang arkeolog โ€“โ€“dengan ketabahan dan kerja tekunnyaโ€“โ€“ menggali lalu menyapu tanah, mencari sebentuk fosil yang membatu dan mengantarkannya kepada pemahaman ihwal masa lalu. Lewat kerja tekunnya itu, sejarah direka-reka dan kehidupan manusia berabad silam dibangun ulang. Tak heran, dari kerja mereka itulah, kisah perjalanan manusia terbaca.

Cerita manusia bermula dari kisah penuh perjuangan untuk bertahan hidup dan beradaptasi terhadap kejadian alam. Kapak genggam, tombak, gerabah, dan fosil hewan buruan merupakan artefak sejarah manusia masa silam yang memperlihatkan perjuangan tersebut. Di tengah-tengah kontemplasi tersebut, lalu terbersit dalam pikiran: apa artefak manusia modern dan peninggalan peradaban era kini yang akan diwariskan kepada anak cucu kita pada abad mendatang? Dalam pikiran, kemudian terlintas: sampah, yang menjadi kekhasan peradaban masa kini, terutama sampah yang awet, dengan durasi terurainya sedemikian panjang. Manusia masa kini bermasalah dengan cara hidupnya.

Di Yunani Kuno berabad lampau, sang filsuf Socrates memilah dan menarik garis pembatas kelompok manusia ke dalam dua kutub ekstrem. Di satu sisi adalah kelompok pencinta hikmah yang disebut philosofi. Satu titik lainnya adalah kelompok manusia pencinta jasad atau philosoma, sang penikmat dunia. Tarikan jasadiahnya menarik manusia mencari tahu hal-hal yang paling nyaman bagi tubuh jasadnya, surganya tubuh.

Apa itu surga jasad? Tentunya apa pun yang melenakan dan memanjakan semua perangkat indrawi manusia. Sedangkan perangkat indrawi sendiri merupakan gerbang diri dengan dunia luar, juga hal-hal yang menjadikan manusia sebagai spesies yang bisa bertahan, yakni perkara makan yang membentuk jasad dan tindakan beranak-pinak. Itulah ciri hewaniah manusia.

Bukankah manusia memiliki akal sebagai pembeda utama dirinya dengan makhluk lainnya? Perangkat ini memampukan manusia melampaui hambatan-hambatan alamiahnya. Manusia bisa berkreasi dan merekayasa semua hal. Kreasi yang bersumber dari dua kemampuan utama: berbahasa dan menggambar (seni) lewat imajinasi. Akal dan kreasi, bahasa, seni, dan imajinasi merupakan perkara khas yang dimiliki spesies homo sapiens.

Lompatan rekayasa pertama makhluk homo sapiens ini adalah domestifikasi, yakni perkara bagaimana membuat tempat berlindung bernama rumah dan mendekatkan semua kebutuhan hidup ke area di sekitarnya. Budidaya pangan dan domestifikasi ternak menjadi bagian dari upayanya tersebut. Manusia mulai belajar cara menumbuhkan bio-massa untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Dia pun belajar memahami siklus-siklus yang terjadi di alam. Musim diskemakan, alam direkayasa, tanah dibajak, benih dipilah, dan kelebihan panen disimpan. Proses belajar ribuan tahun ini mengarahkan manusia menjadi semakin bisa berdampingan sekaligus menaklukkan alam.

Alam merupakan sistem; ekosistem. Ia saling terhubung dalam jejaring antara makhluk dan lingkungannya. Sebegitu kuat jejaring dan relasinya, membuat gangguan terhadap salah satu elemen bisa berdampak besar pada keseluruhan sistem.

Namun, benarkah manusia bisa berdampingan dengan alam?

Untuk menjawabnya, ada baiknya kita melirik buku Sixth Extinction karya Elizabeth Kolbert sebagai rujukannya. Buku ini berkisah tentang bumi yang sudah mengalami lima kali kepunahan, dan kini sedang menuju kepunahan keenam yang disebabkan oleh ulah manusia. Antroposen merupakan masa yang bermula ketika aktivitas manusia mulai memiliki pengaruh global terhadap ekosistem bumi. Sebelumnya, sekian kepunahan terjadi disebabkan oleh hal eksternal. Dan kini, kepunahan diprediksi karena ulah spesies dominan, yaitu manusia sendiri. Sebuah ironi dari makhluk yang konon bijak, ternyata tidak.

Manusia telah mengubah bentang alam di planet ini hingga mencapai setengah luasnya. Sungai utama dunia dibendung dan dialirkan arahnya semaunya. Nitrogen yang diproduksi oleh pabrik pupuk kimia sudah melebihi produksi semua ekosistem darat. Manusia juga mengambil sepertiga produksi primer ikan-ikan di laut dekat pantai. Mereka pun mengambil lebih dari setengah jumlah air tawar di dunia. Lainnya, aktivitas manusia sudah mengubah keseluruhan planet, baik di darat, laut, maupun atmosfernya.

Maka, selamat datang di era Antroposen!

Perdebatan ihwal kapan dimulainya antroposen merupakan hal yang cukup menarik untuk diamati. Ada saintis yang berkata bahwa gejala antroposen dimulai pada masa revolusi Industri karena pada masa itu materialisasi bermula. Ada juga yang menarik jauh ke belakang, sekitar 12 ribu tahun lalu, yakni pada masa saat manusia mulai bercocok tanam, budidaya pangan, dan domestifikasi ternak. Meskipun demikian, perdebatan permulaan Antroposen ini berakhir pada tahun 2016. Hal ini ditandai dengan berdirinya sebuah badan bernama Anthropocen Working Group yang sekaligus memutuskan bahwa Era Antroposen dimulai sejak 1950, beberapa saat setelah percobaan nuklir diluncurkan.

Perdebatan waktu bukan perkara penting ketika berbicara tentang Antroposen ini, melainkan dampak ulah manusia yang sudah dan sedang berlangsung. Bahkan, jauh sebelum revolusi industri dan revolusi pertanian yang memunculkan budidaya pangan, dampak Antroposen tetap tampak nyata. Kepunahan terdekat yang disebabkan oleh manusia adalah kepunahan hewan-hewan besar. Hal ini terjadi bergelombang di hampir semua tempat, seiring bertambahnya jumlah manusia, mulai dari Amerika hingga Australia.

Sebaran pertama homo sapiens yang terjadi pada sekitar 40 ribu tahun lalu ke benua Australia sudah cukup memusnahkan hewan-hewan besar di sana. Dengan sendirinya, kepunahan itu telah menghilangkan spesies pemakan rumput dan tumbuhan. Akibatnya, biomassa di hutan yang menumpuk justru menjadi bahan bakar ketika musim kering tiba. Pada akhirnya, berbagai peristiwa kebakaran besar di Australia mengantarkan benua ini menjadi wilayah yang kering secara permanen. Sebaran kedua homo sapiens ke benua Amerika sekitar 25 ribu tahun lalu juga turut memusnahkan hewan-hewan besar di sana.

Betapa dengan peralatan yang sederhana saja manusia sudah bisa memusnahkan spesies lain dan mengubah bentang alam dengan lebih cepat. Keganasan dan dominasi manusia pada 300 tahun belakangan ini juga sudah memusnahkan 829 hewan, dan mungkin ribuan tumbuhan.

* * *

Arthur Lovejoy berkisah dalam ๐˜Ž๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ต ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ dengan setengah bersedih. Menurutnya, menjelang abad ke-18, entah mengapa, kesadaran dan kepekaan manusia soal wujud yang bergradasi menaik (๐˜Ž๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ต ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ) tiba-tiba runtuh begitu saja. Padahal, konsep ini merupakan hal yang fundamenal dari semua agama dan ajaran spiritual. Manusia modern tidak lagi mempertimbangkan wujud-wujud di luar cerapan indrawinya.

Bahkan, lebih jauh lagi, kesadaran akan wujud vertikal yang runtuh ini juga diiringi dengan manusia yang dirinya merasa lepas dan sendirian dari wujud-wujud horizontalnya. Manusia menganggap dirinya berada di luar ekosistem, dan di luar jejaring kehidupan. Bahkan, kepekaan akan semesta yang melingkupinya di tataran kasat mata, telah hilang. Manusia yang dikendalikan tarikan jasadiahnya ini cenderung memusnahkan semua spesies. Mirip dalam film Interstellar yang hanya tersisa jagung saja karena semua spesies pangan punah, menjadi latar belakang cerita film.

Menarik juga ulasan Jared Diamond tentang manusia yang menggemari rasa asin, manis, dan punya kecenderungan untuk makan dengan sangat lahap sebagai buah dari proses evolusi di jasadnya. Hal ini merupakan akibat perjalanan manusia semasa menjadi pemburu dan pengumpul. Kala itu, mereka lebih sering dihadapkan pada kekurangan makanan dan protein.

Manusia menggemari rasa manis dan makan sepuasnya sebagai hasil adaptasi pada masa lalu. Kala itu, mereka berhasil menemukan buah-buah ranum, sehingga mereka makan sepuasnya sebelum mengalami kelaparan lagi sesudahnya. Hasil perburuan yang bukan dalam hitungan hari, membuat manusia juga memiliki kecenderungan untuk menggemari rasa asin demi menutupi kekurangan protein dan garam hewaninya.

Perilaku berlebihan sebagai hasil dari tarikan jasadnya ini berdampak besar pada keseimbangan ekosistem di bumi. Manusia abai dengan keseimbangan dan kesetimbangan. Prinsip ekonomi tentang bagaimana bertani dengan efektif dan efisien, hanya fokus menumbuhkan hasil panen semata. Para petani lebih memilih tanaman monokultur dengan pendekatan memusnahkan tanaman selain yang ditanam dan dianggap hama. Padahal alam adalah ekosistem, tak bisa ditunggalkan pada satu tanaman. Serangga, gulma, burung-burung adalah bagian dari alam.

Dalam mengatasi masalah pangan ini, dunia seolah-olah sudah kekurangan pangan. Faktanya tidaklah demikian. Justru, setengah lebih (persisnya 53%) hasil produksi pangan terbuang percuma. Volumenya sekitar 10,3 milyar ton makanan per tahun di seluruh dunia. Detilnya, 20% hilang dalam proses pengepakan dan pemetikan, 3% hilang dalam pengepakan dan pengiriman, 2% dalam pengalengan dan proses masak, 9% dibuang di toko-toko dan grosir, serta 19% dibuang di kulkas rumahan dan makanan sisa.

Itu baru sampah pangan, belum sampah plastik, perangkat elektronik, hingga sampah bangunan yang volumenya lebih mengkhawatirkan lagi. Cara hidup manusia sudah tidak memedulikan sesama manusia, apalagi sesama mahluk lain dan lingkungannya. Hal itulah yang terjadi sehari-hari pada masa kini.

Ada banyak hal keseharian yang menunjukkan kita tidak lagi peka terhadap keseimbangan alam. Misalnya kita cenderung memilih buah dan sayur yang seragam dan tanpa cacat. Padahal, mana ada buah dan sayur yang sempurna di alam? Tubuh manusia didesain untuk selalu bergerak di luar rumah, sistem penglihatan didesain untuk melihat dan fokus pada jarak jauh, dan sistem pencernaan manusia lebih cocok dalam kondisi tidak selalu dalam kekenyangan. Tapi, aktivitas manusia kini justru berkebalikan dari fithrahnya tersebut. Ingin nyaman dalam rumah berpendingin, suka rebahan, dan malas bergerak, hingga jika pun harus bepindah tempat, tentu saja menggunakan alat (seperti remote control), dan makan pun sepuasnya. Dan tentu saja fithrah utama manusia adalah mendayagunakan akal budinya dengan baik.

* * *

Suatu waktu, pada usia tujuh tahun, anak saya Ali Akbar pernah bertanya: โ€œMengapa alien itu berkepala besar, bergerak lambat, dan memakai baju pelindung?โ€

Agak iseng saya menjawab, “Ya mereka kurang olahraga fisik, terlalu banyak gadgetan dan planet yang mereka tinggali sudah rusak.” Tentu, jawaban tersebut bernuansa ajakan, agar anak-anak memperbanyak aktivitas outdoor, mengurangi aktivitas gadgetan, dan juga rebahan. Namun, setidaknya imajinasi manusia dalam film bisa jadi gambaran ke depan tentang kondisi manusia dan planet ini.

Yah, agak mending gambaran manusia di depan seperti alien, dengan kepala besarnya. Hal tersebut tanda bahwa otaknya difungsikan dengan optimal. Setidaknya, ada tanda ketertarikan pada nalar dan pengetahuan. Bayangkan, jika gambaran manusia ke depan seperti film wall-e: manusia tambun yang bergerak lambat bergantung hidupnya pada mesin di tengah timbunan sampah di planet bumi yang tak bisa ditinggali lagi.

Itulah gambaran nyata โ€“โ€“seandainya kelak ribuan atau jutaan tahun ke depanโ€“โ€“ entah makhluk apa yang bertindak sebagai arkeolog dan menemukan jejak era Antroposen di bumi ini. Di antara fosil-fosil yang kebanyakan sampah abadi, ada fosil manusia dengan sendi tulang terkena artritis, tanda tulang yang keberatan menahan bobot tubuh atasnya sendiri. Itulah gambaran makhluk yang diperbudak tarikan jasadnya tanpa ampun, hingga teralienasi dari buminya sendiri. Sosok philosoma, pecinta jasad, dan sosok yang menjadi sampah peradaban.***

Disunting oleh Septina Ferniati

Author Profile

Deden Himawan
Deden HimawanPerumus dan pendiri Walungan
Pengawas Walungan. Meraih gelar sarjana dari jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung pada tahun 2000. Tertarik pada bidang sosial-budaya, isu-isu lingkungan, dan pembangunan wilayah.

Post a comment

%d bloggers like this: