• Gizi Masyarakat di Sela-sela Dongeng Ikan Asin

    Cara merespon makanan, baik rasa, rupa, maupun aroma, memiliki sejarah yang cukup panjang. Dia melalui aliran alur sungai evolusi dalam kurun waktu sekian lama. Cara hidup, cara menentukan makanan, dan cara tubuh bereaksi merupakan catatan penting terkait bagaimana proses itu terjadi. Ratusan ribu tahun, tubuh merespon perubahan alam guna menentukan cara terbaik agar bisa bertahan hidup.

    Continue reading
  • Arus Balik: Dari Utara, Kembali ke Utara

    Akhir September. Kendati nama bulannya berakhiran ‘ber’ yang kerap menjadi tanda musim penghujan, tetapi hawanya masih terasa menyengat: panas dan kering. Periode ini merupakan masa keempat atau wanci kapat dalam sistem pranata mangsa. Transisi dari kemarau ke penghujan terjadi pada bulan ini. Transisi dengan udara membara ini ditambahi dengan suasana amuk yang diikuti oleh hawa panas pada setiap tanggal tersebut. Misalnya saja terjadinya G30 S PKI yang membuat suasana tambah panas dengan adanya adu posting di arena media sosial.

    Continue reading
  • Membaca Langit, Mengolah Bumi, Merumuskan Pranata-Mangsa

    Pernah ada suatu masa bahwa bertani bukan hanya sekadar aktivitas untuk menghasilkan makanan yang bisa dikonsumsi. Lebih dari itu, bertani merupakan sebentuk cara hidup, cara menjalani kehidupan, dan cara mengolah budhi. Olah budi itu lalu mewujud dalam laku merawat tanah, menumbuhkan tanaman, dan melakoni laku tani yang menyatu dalam keseharian.

    Continue reading
  • La sape dan Refleksi Kadar Hakiki

    Rasa amarah tentang kenyataaan harian yang digelutinya jadi pemantik aksinya tersebut. Amarah atas kemiskinan yang menggelayuti diri dan orang-orang sekitarnya. Dia tak terima realitas masyarakatnya, yang lapar di tengah sumber daya melimpah, serta kesulitan air padahal berada di pinggiran Sungai Kongo. Ketidakterimaan itu mendorongnya membalikan realitas dengan membangun realitas-semu.

    Continue reading
  • Tegal, Wayang, dan Manunggal

    ‘Tunggal,’ ‘manunggal,’ ‘Gusti,’ ‘dalang,’ dan ‘wayang’ merupakan kosakata-kosakata yang akrab sejak saya belia. Kata-kata itu jadi penyusun utama kalimat-kalimat Sastra Padalangan yang disebut suluk tersebut.

    Continue reading
  • Geopolitik: Sebuah Ikhtiar untuk Memakmurkan Bumi

    Sebuah menara berdiri tinggi, tegak, dan angkuh sendirian di tengah sisa-sisa bakaran pohon. Kehancuran dan kegelapan mewarnai sekitarnya. Kini, Si penyihir putih Saruman membelot dan berpihak pada Sauron yang dulu ditentangnya. Dunia baru bernama dunia industri menjelang menghancurkan dunia lama, di mana kisah tentang peri, hobbit, Shire, dan pepohonan di hutan perawan begitu hidup.

    Continue reading
  • MEMBUMI: Mengubah Sampah Menjadi Emas

    Earthing, bertelanjang kaki dan membiarkan telapak kaki menyentuh tanah dipercaya membawa kesembuhan. Sama halnya dengan grounding dalam listrik, dengan menginjak tanah dan membiarkan tubuh bersentuhan langsung dengan bumi, ibu bumi, maka elektron-elektron bebas dari tanah akan mengalir ke tubuh, membuat aliran energi di tubuh menjadi lancar. Kelelahan, sukar tidur, stress, vertigo dipercaya sembuh dengan earthing […]

    Continue reading
  • Tanah Air

    Aku memiliki ombak menyambar laut-camar Aku memiliki penyaksian sendiri Aku memiliki rerumputan rimbun Aku memiliki rembulan di ujung kata dan karunia burung, serta keabadian zaitun ….. Aku belajar pada semua kata dan mencacahnya agar bisa menyusun satu kata : Tanah Air Mahmoud Darwish Tanah Air. Konon ia konsep abstrak tapi mendarat di bumi, maujud di […]

    Continue reading
  • Atim Sasmita, Memerdekakan Dirinya Sendiri Melalui Kesahajaan

    Apa arti saudara? Apakah ia yang memiliki nasab dalam kaitan hubungan darah? Apakah ia sebuah pertalian bathin yang demikian kuat dan melampaui sekadar pertalian darah? Pertanyaan ini menghentak kami semua, secara tiba-tiba. Kita sadar sesuatu yang berharga, tatkala ia hilang di hadapan kita. Bagi sebagian besar orang, ia tidak akan dikenal. Karena ia sosok yang […]

    Continue reading

All Rights Reserved