Pasir Angling

Pasir Angling, sebuah dusun di lereng gunung, di mana daya jelajah kapitalisme dari orang-orang kota mendesak demikian kuat kepemilikan tanah, dan di sisi lain orang-orang dusun yang mencoba bertahan di tengah arus desakan kebutuhan hidup, dan perubahan budaya. Di tengah pusaran dan tarikan tersebut, yang membetot orang-orang dusun dalam pertarungan keras kehidupanya, ada tempat yang teduh, di mana kepenatan diberi jeda, kekisruhan diendapkan, yakni sebuah masjid.

Masjid di dusun itu secara bangunan sama dengan masjid lainnya. Hanya di sini–dan mungkin juga di masjid lain— selepas sholat, utamanya waktu magrhib, ada dzikir bersama yang dikumandangkan. Yah benar, tradisi thariqah dan tasawuf di tempat ini masih sangat kental dan kuat. Dan tentu saja, semoga menjadi wahana yang memperkuat bathin orang di dusun ini untuk tetap bertahan, ajeg dan kuat memegang keluhuran budi, amalan syariah, kejujuran berniaga, dan keuletan mengolah tanah.

Pasir Angling. Pasir adalah gundukan tanah atau bukit kecil yang agak rata. Angling bermakna Sabda atau Eling atau Dzikir. Dusun di mana saya dan sahabat-sahabat saya, mengenali dan mencoba memahami kembali apa yang penting dalam sebuah siklus kehidupan keluarga: cara hidup, cara mengelola tanah, cara mendidik anak-anak, cara mengelola komunitas. Dusun di mana kami memahami skala paling mikro, di mana tegaknya apa yang dinamakan peradaban.

Dengan berjalan mendaki dan menysuri Pasir atau Bukit ini, ada harapan mencuat, semoga kami juga dimudahkan menaklukan gunung ‘ke akuan diri’. Dengan kami mengunjungi dusun ini, semoga kami juga di “Angling” kan, di ingatkan (dzikr), akan Sabda yang dulu di suatu masa pernah kami dengar; yakni perihal dharma kami semua: Angling Dharma.
Yah, semoga langkah-langkah kecil ini, menjadi kilau permata di hadapan-Nya.

Post a comment