Menengok Pemikiran John Powell tentang Tata Kelola Kawasan Berbasis DAS

John Wesley Powell merupakan seorang geolog Amerika yang mengabdikan dirinya untuk menjelajahi kawasan Grand Canyon dan Sungai Colorado di Amerika Serikat. Motivasi dirinya untuk melakukan penjelajahan tersebut bukanlah karena pengerjaan proyek semata. Powell yang kala itu menjabat sebagai Kepala Badan Survei Geologi Amerika memiliki gagasan besar untuk membangun peta topografi wilayah Amerika Serikat.

Powell berharap, peta tersebut dapat membantu masyarakat untuk mengetahui karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS) secara lebih baik, termasuk memvisualisasikan pembagian geografi Amerika, jaringan, dan aliran sungai. Ekspedisi pemetaan yang dipimpin oleh Powell ini bertujuan untuk menetapkan garis batas DAS sebagai basis penataan pemukiman masyarakat. Powell meyakini bahwa pemukiman penduduk haruslah berdasarkan garis batas DAS sebagai sumber vital bagi kehidupan masyakarat.

Kerja Powell selesai tepat 102 tahun setelah penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat yang menyatakan kebebasan sebagai koloni kerajaan Inggris. Kala itu, Powell menyusun sebuah laporan ilmiah yang berjudul Report on the Arid Lands of the United States yang berisikan eksplorasi penjelajahan Plateau Colorado yang dimulai sejak tahun 1867 bersama sekelompok mahasiwa Geologi. Secara garis besar, isi laporan tersebut memuat penegasan Powell yang melarang privatisasi air. Bagaimana pun, air merupakan barang milik bersama yang dimiliki oleh setiap orang yang memiliki tanah.

Selain itu, dalam laporan tersebut, Powell juga menggaris-bawahi standar luas pemukiman milik pribadi di wilayah publik yang tidak boleh lebih dari 160 acre atau sekitar 64,74 hektar. Powell pun turut merekomendasikan kepemilikan lahan untuk pertanian dan peternakan. Menurutnya, pertanian semestinya diintegrasikan ke dalam wilayah-wilayah irigasi, sedangkan peternakan idealnya berada di padang rumput yang diatur dalam sistem penggembalaan.

Pada konteks saat itu, Powell bahkan sudah mengukur karakteristik wilayah Amerika Serikat. Dalam tulisannya, Powell menyatakan bahwa “…bagian Timur Amerika merupakan wilayah dengan curah hujan yang berlimpah, sehingga akan mampu menopang kebutuhan pertanian. Sementara, di wilayah Barat, curah hujan terbilang kurang karena memiliki iklim kering. Oleh karena itu, pertanian tidak akan berhasil jika tanpa irigasi…”

Pandangan Powell ini diakuinya tidak hanya berdasarkan pengalamannya yang dihabiskan bertahun-tahun dalam penjelajahannya, tetapi juga mengacu pada peta hujan dari Smithsonian Institution. Peta curah hujan tersebut menunjukkan bahwa diperlukan curah hujan 20 Inchi (sekitar 50,8 Cm) sebagai jumlah minimum yang dibutuhkan untuk menanam biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran yang menjadi bahan konsumsi pangan orang Amerika. Ketika curah hujan tahunan berada di bawah angka itu, maka dipastikan tidak ada hewan ternak yang dapat berkembang, kecuali dengan bantuan irigasi buatan. Namun, hal tersebut tidak membuat Powell menyerah. Penolakan itu bahkan memotivasi Powell untuk menyusun master plan wilayah Barat. Bahkan, master plan tersebut bertujuan untuk mendorong perekonomian Amerika Serikat paska perang saudara.

Master plan yang dirancang Powell sendiri ditujukan untuk menciptakan sistem politik baru berdasarkan Daerah Aliran Sungai. Karena daerah aliran sungai mengalir di sepanjang kawasan lahan di Amerika Serikat, maka daerah aliran sungai tersebut seharusnya menjadi definisi dan landasan untuk pembagian suatu wilayah. Selain menjadi dasar pembagian wilayah, setiap pemerintah yang kawasannya dilewati oleh kesatuan daerah aliran sungai tersebut juga harus memiliki wawasan pengetahuan tentang daerah aliran sungai sebagai dasar penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat dan pengaturan penggunaan air.

Bagi Powell, wawasan pengetahuan mengenai daerah aliran sungai merupakan elemen yang krusial dalam pemerintahan. Sebab, setiap daerah aliran sungai merupakan kesatuan wilayah utuh yang terikat oleh kesamaan geologi, curah hujan, penguapan, penyerapan tanah, limpasan, dan drainase. Aspek lingkungan ini menjadi batasan bagi pemerintahan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam.

Di bagian hulu yang terdiri dari wilayah hutan yang termasuk dalam ekosistem mata air, maka pemerintah memiliki wewenang untuk membuat aturan agar tidak terjadi alih fungsi lahan. Sementara itu, pada ketinggian menengah, masyarakat seharusnya membuat padang rumput yang diperuntukkan untuk menggembalakan ternak dan melindungi tanah dari erosi. Pada dataran rendah yang subur, tempat terdapatnya anak sungai dan sungai mengalir, masyarakat dapat bercocok tanam yang pengairannya harus diatur bersama dan dilestarikan secara komunal.

Dedikasi Powell dalam menyusun visi tata wilayah Barat di Amerika Serikat untuk menjaga pasokan air yang terbatas ini sangat mudah dimonopoli oleh segelintir orang. Powell sendiri berupaya untuk menjaga agar persediaan air yang terbatas tersebut tetap dapat diakses oleh banyak orang dan memastikan nilai-nilai demokrasi bertahan dalam kepengurusan air dengan mengajukan gagasan ilmiahnya ke dalam kebijakan praktis. Meskipun laporan ilmiah Powell banyak dikritik karena dianggap kurang ilmiah untuk direalisasikan, tetapi pemikiran Powell masih relevan untuk memahami tentang hubungan pemerintahan dalam hal pengelolaan lingkungan alam.

Tulisan ini diintisarikan dari literatur Worster (2009): “A river running west: Reflections on John Wesley Powell”.

Author Profile

Rahmalia Rifandini, S.Sos.
Rahmalia Rifandini, S.Sos.Periset Sosial
Staf Kesekretariatan & Humas Walungan. Periset Sosiologi Pedesaan. Meraih gelar Sarjana dari jurusan Sosiologi Universitas Indonesia pada tahun 2018. Sedang menempuh pendidikan Magister Sosiologi di perguruan tinggi yang sama.
%d bloggers like this: