Tiga Langkah Awal Memulai Budidaya Domba Berbasis Kasih Sayang

Domba yang berkualitas hadir dari manajemen peternakan yang nyaman dan penuh kasih sayang. Suasana ini perlu dibangun sejak proses reproduksi, kehamilan, kelahiran, penggemukan, hingga penyembelihan dan pemotongan. Ekosistem budidaya domba seperti inilah yang tengah dibangun oleh Walungan selama beberapa tahun terakhir ini.

Berdasarkan catatan Riki Frediansyah, Ketua Walungan sekaligus Kepala Divisi Peternakan, sebagai langkah awal, seorang peternak perlu memahami tiga aspek dalam peternakan domba, yaitu: karakter hewan, siklus hidupnya, dan peremajaan indukan. Ketiga aspek tersebut merupakan jembatan bagi peternak untuk menghubungkan antara Manajemen Pembibitan Domba yang berkualitas dan kasih sayang terhadap hewan ternak.

Karakter Domba

Dalam konteks karakter hewan, para peternak harus mampu memahami unsur fisiologis dan kebiasaan domba. Unsur fisiologis sendiri mencakup susunan tulang, kombinasi daging, organ penyusun, serta proses pertumbuhan dan perkembangannya.

Cara memahami aspek ini tidak hanya dilakukan dengan melihat dan mendengar serta mengendus semata. Seorang peternak juga harus mampu menyentuh tubuh ternak, bahkan hingga mampu menekan dan memijitnya. Pemahaman tentang unsur fisiologis domba ini selanjutnya akan membangun pemahaman tentang tingkah laku, pakan kesukaannya, hingga perlakuan berdasarkan usia hewan. Pada fase ini, peternak bisa mengetahui tingkat kesehatan ternak dan merawatnya kala hewannya sakit.

Secara garis besar, domba dan hewan ruminansia lainnya sangat senang untuk bergerak bebas di alam. Hal ini merupakan bawaan alamiah sang hewan. Para peternak sendiri harus mampu memenuhi hak tersebut agar menghasilkan hewan ternak dengan kualitas terbaik. Salah satu caranya, bisa dengan menggembalakan di tempat yang terbuka. Atau, bisa juga membiarkan ternaknya ke luar kandang agar dagingnya terlatih dan berkembang menjadi lebih baik.

Domba dan hewan ruminansia yang keluar kandang dan biasa digembalakan relatif mampu mencari pakan yang disukainya. Sistem tubuhnya akan menuntun sang hewan untuk mencari rumput dan dedaunan yang dibutuhkannya. Dalam hal ini, peternak bisa mempelajari pakan kesukaan ternaknya agar mampu memenuhi kebutuhannya. Bagaimana pun, ternak yang menyantap pakan kesukaannya relatif menghasilkan daging yang berkualitas.

Kesempatan keluar kandang dan menggembala juga turut mempengaruhi perilaku domba dan hewan ternak lainnya. Domba yang kerap menikmati kebebasan akan cenderung jinak, gesit, sehat, dan dagingnya jauh lebih enak karena kandungan lemaknya sedikit dan tidak menempel. Sebaliknya, hewan yang hanya terkurung di dalam kandang cenderung galak dan agresif serta stress. Kondisi ini ditenggarai oleh perlakuan yang bertolak-belakang dengan sifat alamiah sang hewan.

Kemampuan para peternak untuk memenuhi kebutuhan domba dan hewan ternaknya ini bisa menyambungkan rasa antara keduanya. Para peternak jadi lebih memahami dan menyediakan kebutuhan ternaknya sekaligus membangun kenyamanan di antara keduanya. Pada gilirannya, sikap ini mampu menumbuhkan dan mengembangkan suasana peternakan yang produktif sekaligus berkualitas.

Siklus Hidup

Seorang peternak harus memahami siklus domba agar lebih presisi dalam memberikan perlakuan terhadap ternaknya. Utamanya, aspek ini punya peran strategis dalam melahirkan bibit-bibit domba yang berkualitas dan unggul. Dalam hal ini, Domba Betina merupakan subjek strategis untuk menghadirkan bibit berkualitas tersebut. Dari keseluruhan rangkaian hidupnya, titik strategisnya terletak pada domba betina yang siap dan baik untuk kawin.

Pada usia 6 – 8 bulan, Domba Betina sudah mulai dewasa secara seksual. Hanya saja, domba ini baru layak dikawinkan pada usia 12 – 15 bulan. Hal ini mempertimbangkan tingkat kematangan alat reproduksi domba betina, sehingga meminimalisir kegagalan proses perkawinan. Waktu birahi sendiri terjadi selama dua hari, atau sekitar 30 – 40 jam lamanya. Sebaiknya, proses perkawinan dilakukan pada hari kedua masa birahi domba betina. Apabila proses pembuahan berhasil, maka domba betina akan mengalami bunting selama lima bulan, atau 144 – 152 hari.

Setelah lahir, tempatkan anak domba dalam satu kandang bersama induknya. Sebaiknya, induk domba menyapih anaknya selama tiga bulan pertama. Pada periode ini, anak-anak domba akan mendapatkan susu awal yang mengandung kolostrum. Selain itu, pastikan kandang selalu dalam keadaan bersih dan kering, sehingga meminimalisir resiko penyakit dan kematian pada induk dan anak-anak domba. Setelah berusia tiga bulan, pindahkan anak domba di kandang terpisah untuk memulai proses pertumbuhan dan penggemukan.

Domba betina sendiri mampu melakukan reproduksi secara optimal hingga usia 6 tahun. Adapun, pejantan mampu melakukan aktivitas pembuahan secara optimal hingga usia 6-10 tahun. Setelah periode waktu tersebut, domba masuk dalam kategori tidak produktif atau afkir.

Manajemen Indukan

Kunci keberhasilan budidaya domba terletak pada kemampuan peternak untuk mengelola Domba pejantan dan betina, termasuk peremajaannya. Idealnya, masa produktivitas Domba Garut betina sekitar 3-6 tahun. Walungan sendiri mengoptimalkan seekor betina hingga lima tahun lamanya. Dengan demikian, setiap tahunnya, terdapat 20 persen betina yang diremajakan. Bila ada 20 ekor induk betina, maka setiap tahunnya ada empat ekor yang diganti.

Sedangkan jumlah Domba pejantan untuk pembibitan tergantung usianya. Pejantan yang berusia 15 bulan mampu melayani 10 ekor betina. Adapun pejantan yang berusia antara 15 – 36 bulan mampu melayani 35 ekor betina. Untuk pejantan yang berusia di atas 36 bulan mampu melayani sekitar 50 ekor betina. Walungan sendiri menetapkan rasio 1:10 antara Domba pejantan dan betina. Masa produktivitas domba pejantan sendiri sekitar 6 – 10 tahun.

Dari jumlah tersebut, indukan Domba bisa menghasilkan 20 sampai 40 ekor per tahun. Setiap tahunnya, seekor domba bisa melahirkan satu hingga dua ekor. Usia kehamilannya sendiri sekitar lima bulan. Adapun masa istirahat induk betina sambil menyapih anaknya sekitar tiga bulan. Setelahnya, betina kembali memasuki siklus reproduksi. Berdasarkan uraian ini, seekor domba betina rata-rata mampu melahirkan sekitar 1,75 anak per tahun.

Rasio kelahiran antara anak domba berkelamin jantan dan betina sekitar 1:3, atau sekitar 25 persen berbanding 75 persen. Jadi, bila ada 20 induk betina, dalam setahun lahir sekitar 5-10 domba jantan dan 15-30 domba betina. Capaian ini dengan catatan tingkat kehidupan induk dan anak sebesar seratus persen. Bila tingkat kematian anak mencapai lima persen, maka asumsi tingkat kematian per tahun sekitar satu hingga dua ekor dari 20 ekor induk betina Domba.

Selama rentang waktu lima tahun, peternak harus memperhatikan kondisi domba jantan dan betinanya dalam proses reproduksi tersebut. Domba yang mandul, sering sakit, cacat, dan genetiknya kurang bagus perlu diremajakan secara berangsur-angsur. Hindari juga perkawinan domba yang sama secara genetika atau satu keturunan. Cara ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hewan ternak dan meminimalisir angka kematian domba.***

Author Profile

Yudha P Sunandar
Yudha P Sunandar
Staf Kesekretariatan & Humas Walungan. Pengkaji Media for Community Development. Pernah belajar di Jurnalistik STIKOM Bandung. Berpengalaman sebagai praktisi di bidang pengembangan dan manajemen media online.
%d bloggers like this: