Tiga Pilar Kunci Manajemen Peternakan Sapi a la Walungan

Beternak sapi membutuhkan teknik pengelolaan yang baik agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas, termasuk daging dan susunya. Selama ini, para periset peternakan Walungan berusaha mengembangkan teknik pengelolaan peternakan terintegrasi, sehingga mampu meningkatkan produktivitas dengan biaya yang relatif rendah. Dalam hal ini, ada tiga manajemen peternakan sapi yang berhasil dikembangkan, yaitu: Manajemen Pembibitan, Manajemen Pakan, serta Manajemen Kandang dan Lingkungan.

Manajemen Pembibitan

Produk peternakan yang baik berasal dari bibit sapi yang berkualitas. Sapi yang berkualitas sendiri dihasilkan dari proses perkawinan yang baik. Oleh karena itu, penting bagi para peternak untuk mengelola proses pembibitan sapinya sebaik mungkin. Proses ini perlu memperhatikan tiga hal berikut.

Pertama, pastikan sapi termasuk kategori Layak Kawin. Layak Kawin sendiri didefinisikan sebagai cukup dewasa, dalam siklus birahi, dan bergaris keturunan jauh. Dewasa sendiri dilihat dari mulai berfungsinya alat kelamin sapi. Umumnya, usia sapi betina di atas 12 bulan dan sapi jantan di atas 18 bulan sudah masuk fase dewasa.

Adapun masa birahi atau estrus terjadi ketika kelamin sapi mengindikasikan 3B, yaitu: Beureum atau berwarna kemerah-merahan, Baseuh atau basah, serta Bareuh atau lebih besar dari biasanya. Bila hal tersebut terjadi, seorang peternak harus mengkondisikan perkawinan sapi dalam kurun waktu 14-24 jam. Selepas itu, siklus birahi baru akan terjadi sekitar 19-20 hari kemudian.

Perhatikan juga garis keturunan sapi. Hindari mengawinkan sapi yang memiliki kedekatan garis keturunan, seperti satu betina atau sapi jantan. Hal ini akan menurunkan kualitas hasil pembibitan sapi. Kawinkan sapi yang tingkat kekerabatannya cukup jauh. Harapannya, anak sapi yang dilahirkan akan memiliki kualitas yang jauh lebih baik.

Kedua, berikan penanganan yang terbaik kepada sapi-sapi yang Layak Kawin. Sapi yang akan kawin membutuhkan Kandang Kawin. Dalam hal ini, peternak bisa memasukkan sapi jantan dan betina ke kandang tersebut dengan perbandingan 1:5 hingga 1:10. Proses perkawinan ini membutuhkan waktu sekitar dua bulan.

Perlu dicatat, sapi yang mengalami birahi cenderung stress dan labil. Sapi betina juga cenderung tertekan ketika kedatangan sapi jantan. Oleh karena itu, berikan perlakuan yang baik dengan cara mengelap tubuh sapi dengan air hangat. Hal ini akan menurunkan suhu tubuh sapi dan membuat kondisinya menjadi nyaman. Usai proses perkawinan pun, sapi jantan harus dijemur dan diberikan vitamin.

Ketiga, perhatikan sapi pada masa kehamilan atau bunting. Masa kehamilan pada sapi hampir sama seperti manusia, yaitu sekitar 9 bulan. Pada usia kehamilan 7 bulan, sapi akan cenderung mengalami masa kekeringan susu. Hal ini dikarenakan sapi hamil butuh cadangan energi untuk proses melahirkan. Selama masa kekeringan ini, sapi tidak bisa diperah susunya. Dalam hal ini, penting bagi peternak dan pemerah susu sapi untuk mengelola jadwal kehamilan sapi agar produksi susu tetap dan tidak berkurang.

Manajemen Pakan

Aspek pakan merupakan kunci bagi peternakan, termasuk sapi. Pakan yang baik akan menjaga kualitas daging ternak dan susunya. Secara umum, sumber pakan bagi peternakan sapi terdiri dari konsentrat dan hijauan.

Sumber hijauan sendiri sangat beragam, mulai dari Rumput Odot, Rumput Taiwan, Rumput Gajah, hingga tanaman kacang-kacangan. Rumput Odot sendiri merupakan pakan hijauan yang cukup direkomendasikan untuk peternak sapi. Hijauan ini memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, sekitar 17-19 persen. Teksturnya pun cukup lunak, sehingga mudah dikunyah dan habis dimakan oleh sapi.

Sebagai perbandingan, ada juga peternak yang memberikan Rumput Taiwan sebagai pakan hijauan ternaknya. Rumput ini bertekstur agak keras. Kondisi ini membuat rumput sulit dimakan, sehingga sapi kerap menyisakan sebanyak 20-30 persen pakannya. Oleh karena itu, bagi para peternak yang memberikan pakan berupa Rumput Taiwan, sebaiknya potong-potong rumput terlebih tahulu, sehingga mempermudah sapi untuk mengunyahnya. Biasanya, sapi kerap trauma terhadap pakan yang sulit dikunyah.

Alternatif pakan hijau bisa juga dari tanaman berjenis Leguminosa, seperti Indigofera, Kaliandra, dan Arachis hypogea. Tanaman ini umumnya memiliki protein yang cukup tinggi. Keberadaan tanaman ini juga membantu menyuburkan tanah karena kemampuannya mengikat Nitrogen dari udara ke dalam tanah.

Leguminosa umumnya dicampur dengan rumput sesuai dengan komposisi sesuai dengan usia sapi. Sapi dewasa cukup diberikan 25 persen Leguminosa, dan 75 persen sisanya berupa rumput. Sapi yang sedang hamil membutuhkan Leguminosa yang lebih banyak, sekitar 40 persen, dan 60 persen sisanya berupa rumput. Sedangkan sapi yang menyusui memerlukan komposisi pakan yang berimbang, masing-masing sekitar 50 persen untuk Leguminosa dan rumput. Adapun anak sapi yang sudah disapih memerlukan pakan yang hampir sama dengan sapi bunting, yaitu 40 persen Leguminosa dan 60 persen rumput.

Manajemen Kandang & Lingkungan

Kandang dan lingkungan di sekitarnya berdampak cukup signifikan terhadap kesehatan ternak sapinya, dan juga masyarakat di sekitarnya. Kandang yang sehat memiliki kriteria: area ternak yang cukup luas, ventilasi udara yang baik, teduh dari terik matahari dan guyuran hujan, akses cahaya mata yang cukup, serta lantai yang kokoh.

Kondisi kandang yang ideal sendiri berdampak kepada produktivitas sapi yang tinggi. Sapi sendiri merupakan hewan yang cukup sensitif, sehingga mudah stress. Kandang yang baik membuat sapi menjadi nyaman, dan tentunya kondisi ini membantu para peternak untuk mengelola sapi-sapinya dengan lebih mudah dan baik lagi.

Secara fasilitas dan fungsi, Walungan sendiri merumuskan tujuh area yang perlu ada bagi kandang yang ideal. Pertama, area ternak untuk fattening (penggemukan) dan breeding (perkawinan). Kedua area tersebut harus dipisah karena memiliki fungsi, ukuran, dan daya tampung yang berbeda.

Kedua, saluran irigasi untuk menyalurkan sisa makanan serta limbah ternak berupa feses dan urin. Pastikan, saluran irigasi ini cukup lebar dan miring, sehingga limbah peternakan bisa mengalir dengan lancar ke area pengolahan limbah. Ketiga, area penampung limbah ternak. Keberadaannya sangat penting agar limbah ternak bisa diolah menjadi pupuk dan tidak mencemari lingkungan.

Area penambungan limbah ternak sendiri idealnya dibagi menjadi tiga bak utama. Bak pertama digunakan untuk menampung padatan berupa feses dan sisa pakan. Sedangkan bak kedua dan ketiga digunakan untuk menampung air sisa memandikan sapi dan membersihkan kandang. Selain ketiganya, ada juga bak terakhir untuk menyimpan ikan sebagai bio-indikator kualitas air. Air di bak keempat ini juga bisa digunakan untuk menyiram tanaman, baik hijauan pakan maupun komoditas perkebunan, seperti: sayur, kopi, dan pisang.

Keempat, sediakan area pengolahan limbah terpisah. Area ini digunakan untuk mengolah limbah ternak menjadi pupuk. Dalam konteks Pertanian Terintegrasi (Integrated Farming), hasil olahan ini bisa digunakan untuk memupuki pertanian. Selain itu, kelebihan pupuk juga bisa dijual, sehingga diharapkan bisa meningkatkan pendapatan peternak.

Kelima, sediakan instalasi air bersih. Air ini digunakan untuk membersihkan kandang, memandikan sapi, serta menyediakan kebutuhan air minum bagi ternak. Keenam, Gudang Pakan untuk menyimpan pakan ternak, baik berupa hijauan, konsentrat, maupun hijauan yang sudah dikeringkan. Terakhir, area penjemuran ternak. Fasilitas ini biasanya dimiliki para peternak domba, tetapi jarang dimiliki para peternak sapi karena perbedaan pola perawatan ternak.***

Disarikan dari catatan riset peternakan Walungan

Author Profile

Yudha P Sunandar
Yudha P Sunandar
Staf Kesekretariatan & Humas Walungan. Pengkaji Media for Community Development. Pernah belajar di Jurnalistik STIKOM Bandung. Berpengalaman sebagai praktisi di bidang pengembangan dan manajemen media online.
%d bloggers like this: