Delapan Tumbuhan Khas Gunung Bukit Tunggul

Gunung Bukit Tunggul di belahan utara Bandung termasuk objek geologi Cekungan Bandung yang khas dan strategis. Disebut strategis, karena gunung ini menjadi salah penyangga Daerah Aliran Sungai Cikapundung. Sedangkan kekhasan Gunung Bukit Tunggul tampak dari pola vegetasi dan satwa di dalamnya yang masih terjaga. Bahkan, beberapa flora dan fauna berstatus sebagai Endemik, khususnya di wilayah Jawa Barat maupun pulau Jawa.

Pada tahun 2017, Walungan Bhakti Nagari melakukan pengamatan flora dan fauna di Gunung Bukit Tunggul. Pengamatan ini menggunakan metode transek garis dengan mengumpulkan data di sepanjang dua garis transek antara ketinggian 1.300 hingga 2.200 meter di atas permukaan laut. Data sendiri dikumpulkan berdasarkan pengamatan langsung flora dan fauna di lapangan. Khusus satwa liar, metode pengamatan juga ditambahkan dengan menganalisis jejak kaki, feses, bekas makanan, serta tanda-tanda di bebatuan dan batang pohon.

Dari metode ini, vegetasi hutan dan satwa liar mulai bisa ditemukan pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Umumnya, ketinggian ini merupakan batas antara wilayah penduduk dan ladang warga dengan hutan pinus. Ragam satwa liar dan vegetasi hutan mulai meningkat pada ketinggian 1.700 (mdpl) hingga puncak gunung di ketinggian sekitar 2.200 (mdpl). Sebagian besar wilayah ini merupakan hutan tropis, dengan sebagian kecil hutan pinus di wilayah kaki gunung.

Pada ketinggian di atas 1.700 mdpl, terdapat banyak sumber mata air dengan debit yang cukup besar. Umumnya, air ini mengalir melewati sungai-sungai kecil dengan jarak beberapa ratus meter. Setelahnya, sebagian besar debit air akan mengalir masuk ke sela-sela batuan. Di sekitar puncak Gunung Bukit Tunggul, ditemukan juga situs Babalongan yang berusia sekitar empat ribu tahun. Situs ini berupa kolam kering berundak yang masing-masing berukuran 6 x 6 meter persegi.

Dari pengamatan tersebut, Walungan setidaknya mengidentifikasi delapan vegetasi hutan yang khas Gunung Bukit Tunggul. Umumnya, tanaman ini ditemukan sejak di ketinggian 1.500 mdpl yang areanya mulai berupa hutan pinus. Adapun kedelapan tumbuhan hutan yang ditemukan di Gunung Bukit Tunggul, antara lain:

Cantigi (Vaccinium varingiaefolium)

Cantigi merupakan tumbuhan perdu yang hidup di wilayah pegunungan dengan ketinggian 2.000 mdpl. Diduga, tumbuhan ini bisa beradaptasi terhadap perubahan ketinggian dataran. Cantigi merupakan tumbuhan endemik pulau Jawa yang masih berkerabat dengan tanaman blueberry dan cranberry. Umumnya, Cantigi bisa dijumpai di sekitar kawah, seperti area Kawah Putih Ciwidey. Bentuknya berupa pepohonan kecil yang berdaun hijau dengan daun-daun pucuknya berwarna merah-ungu. Buahnya berwarna ungu kehitaman yang tumbuh sepanjang tahun.

Anggrek Gunung (Orchidaceae)

Anggrek Gunung hidup di daerah pegunungan beriklim tropis. Di Indonesia, ada lebih dari empat ribu jenis anggrek dengan bentuk, warna, dan pola bunga yang bervariasi dan menarik. Di Gunung Bukit Tunggul sendiri, ada setidaknya tiga jenis anggrek, yaitu: Anggrek Bawang (Acriopsis javanica lilifolia), Anggrek Kumpai (Huperzia), dan Anggrek Berlian (Cymbidium Sp.). Masyarakat Pasir Angling mencoba untuk membudidayakannya sebagai salah satu produk desa.

Konyal (Passiflora ligularis)

Dikenal juga sebagai Markisa Konyal. Tumbuhan ini hidup di iklim tropis bersuhu 15-18 derajat Celciun dengan ketinggian antara 1.700 hingga 2.600 mdpl. Tanaman ini tumbuh secara merambat di atas tanah dengan memanjat batang pohon menggunakan sulur melingkar. Buahnya berwarna oranye dengan kulitnya yang keras dan licin. Adapun dalaman buah cenderung berair dengan rasa yang sangat manis. Masyarakat Pasir Angling menjualnya mulai dari lima ribu Rupiah per Kilogram. Meskipun tumbuh subur di hutan, sebagian masyarakat mulai mencoba untuk membudidayakannya di lahan perkebunan.

Tusam (Pinus merkusii)

Tanaman asli Sumatera Utara ini dibudidayakan secara luas di pulau Jawa dan sebagian pulau Sumatera bagian utara pada rentang tahun 1921 hingga 1931. Kala itu, pemerintah kolonial Belanda membudidayakan pinus untuk diambil kayu dan getahnya. Pinus juga dinilai mampu mengendalikan tanah longsor karena memiliki intersepsi yang tinggi, perakaran yang dalam, serta evapotranspirasi yang tinggi. Meskipun demikian, tumbuhan ini memiliki dampak besar terhadap lingkungan berupa gangguan keseimbangan air yang berpengaruh terhadap kestabilan tanah, resiko kebakaran hutan yang tinggi, serta terkorbankannya kebugaran vegetasi. Pinus di Gunung Bukit Tunggul tumbuh subur di kawasan perhutani dengan ketinggian antara 1.500 hingga 1.700 mdpl. Kawasan ini berada di kaki Gunung Bukit Tunggul yang berbatasan secara langsung dengan kawasan pendudukan dan perkebunan.

Suren (Toona sureni)

Tumbuhan jenis ini berbentuk pohon yang kayunya banyak dimanfaatkan karena cenderung kokoh, anti rayap, dan tidak mudah lapuk. Pohon Suren berasal dari bioma beriklim tropis basah, tetapi tersebar secara luas di benua Asia hingga wilayah beriklim subtropis. Tanaman ini tumbuh optimal pada ketinggian antara 600 sampai 1.200 mdpl dengan suhu udara rata-rata sekitar 22 derajat Celcius. Daun pohon Suren cenderung harum jika diremas dan bisa digunakan untuk mengusir serangga dan nyamuk.

Puspa (Schima wallichii)

Tanaman ini tersebar di benua Asia beriklim tropis dan subtropis dan bisa ditemukan di berbagai dataran, mulai dari dataran rendah di daerah rawa hingga hutan primer di pegunungan yang tinggi. Kayunya berkualitas tinggi dan bernilai ekonomi karena batang kayunya tunggal dan bersifat kokoh. Pohon Puspa termasuk tumbuhan yang jadi pilihan bagi konservasi lahan hutan karena mudah disemai, tumbuh secara masif dan cepat, serta menarik berbagai satwa liar berjenis burung dan kelelawar yang mampu menyebarkan biji pepohonan hutan lainnya.

Kopi (Coffea)

Tanaman kopi menghasilkan buah yang bijinya dimanfaatkan sebagai bahan dasar minuman populer di seluruh dunia. Meskipun memiliki sekitar 100 spesies, tetapi hanya tanaman kopi Arabika (Coffea arabica) dan Robusta (Coffea canephora) yang populer sebagai minuman masyarakat di dunia. Kopi Arabika sendiri tumbuh subur di ketinggian antara 1.000 hingga 2.100 mdpl, sedangkan kopi Robusta bisa tumbuh di ketinggian antara 100 hingga 800 mdpl. Di Pasir Angling, masyarakat menanam Kopi Ateng dari Sumatera Utara dan Kopi Jawa untuk dijual sebagai bahan minuman. Meskipun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat mulai mengolah secara mandiri buah kopi menjadi biji kopi agar memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi.

Saninten (Castanopsis argentea)

Tanaman ini termasuk langka dan hampir punah di Sumatera dan Jawa Barat. Habitat utamanya adalah hutan tropis di wilayah perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian antara 150 hingga 1.750 mdpl. Saninten kerap dijuluki sebagai Rambutan Hutan karena buahnya yang mirip rambutan. Hanya saja, “rambut” yang tumbuh di permukaan kulitnya cukup keras layaknya duri. Biji saninten bisa diolah secara sederhana dengan direbus, panggang, atau sangrai. Setelah dimasak, bijinya tergolong unik dan wangi dengan rasa yang manis dan gurih serta empuk.***

Author Profile

Yudha P Sunandar
Yudha P Sunandar
Pengkaji Media for Community Development. Pernah belajar di Jurnalistik STIKOM Bandung. Berpengalaman sebagai praktisi di bidang pengembangan dan manajemen media online.

Post a comment

Discover more from Walungan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading