Walungan merupakan lembaga riset integratif berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bertujuan untuk mewujudkan tata kelola masyarakat dan lingkungan berdasarkan jati diri wilayah. Pengenalan jati diri wilayah sendiri diupayakan melalui aktivitas riset di bidang sains, humaniora, dan teknologi terhadap unsur-unsur alamiah yang ada di sepanjang Daerah Aliran Sungai untuk kemudian menghasilkan panduan kehidupan bagi masyarakat dalam membangun tradisi dan budaya berkelanjutan yang selaras dengan siklus hidrologi. Rangkaian aktivitas ini diharapkan mampu mewujudkan model pembangunan masyarakat perdesaan yang memiliki kepedulian terhadap air serta mampu diimplementasikan oleh masyarakat di Indonesia.

Seluruh aktivitas Walungan dipusatkan di wilayah Cekungan Bandung, Jawa Barat, dengan Kantor Pusat Lembaga berada di Cisaranten Kulon, Arcamanik, Kota Bandung, Jawa Barat. Area aktivitas riset sendiri mencakup wilayah Hulu Daerah Aliran Sungai Cikapundung dengan Pusat Riset berada di Kampung Pasir Angling, Desa Sunten Jaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Wilayah riset ini dibagi menjadi dua yang terdiri dari wilayah Zona Produksi yang disebut Segmen I dan Zona Transfer Hulu Sungai Cikapundung yang disebut Segmen II. 

Segmen I sendiri terdiri dari tiga sub-segmen yang masing-masing dibagi berdasarkan wilayah Daerah Aliran Sungai induknya, yaitu: Sub-Segmen IA DAS Cigulung, Sub-Segmen IB DAS Cikawari, dan Sub-Segmen IC DAS Cikapundung. Adapun Segmen II merupakan wilayah kerja yang fokus kepada monitoring debit air dari Zona Produksi. Wilayah ini berupa kawasan hutan yang minim aktivitas masyarakat. 

Wilayah aktivitas riset Walungan.

Embrio Walungan secara lembaga bermula dari riset Dr. Zamzam Tanuwijaya, M.Si. tentang variabilitas debit Zona Transfer Sungai Cikapundung di daerah hulu Sungai Cikapundung pada tahun 2012. Kala itu, beliau dibantu oleh beberapa koleganya melakukan riset sebagai bagian dari pendidikan doktoralnya di Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Setelah meraih gelar doktor pada tahun 2015, beliau berkomitmen untuk berkontribusi kepada masyarakat dengan aktivitas yang sesuai dengan kebidangannya di bidang riset. 

Komitmen ini kemudian menginspirasi beberapa periset dan pegiat lainnya untuk berkolaborasi dalam bentuk pemberdayaan masyarakat di wilayah Daerah Aliran Sungai Cikapundung. Puncak komitmen dan kolaborasi ini diwujudkan dalam bentuk pengesahan Walungan secara hukum melalui keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia pada 16 Agustus 2017 dengan nama Yayasan Walungan Bhakti Nagari.

Nama “Walungan” sendiri diambil dari kosakata Bahasa Sunda yang berarti “Sungai”. Konsep sungai merujuk kepada aliran air dan wilayah sekitarnya yang merupakan kawasan esensial dan sentral bagi manusia dan peradabannya. Secara tidak langsung, nama ini juga dekat dengan lingkup alam masyarakat Sunda yang selalu berkorelasi dengan air. Hal ini tampak dari penamaan berbagai tempat di Jawa Barat yang mengandung kata-kata yang maknanya berhubungan dengan air, seperti: “Ci”, “Leuwi”, dan “Situ”.  Air juga menyimbolkan ilmu atau pengetahuan dalam khazanah tasawuf dan agama Islam.

Berangkat dari filosofi di atas, Walungan menyiratkan sebuah lembaga yang aktivitasnya fokus kepada tata kelola air dan siklus hidrologi. Selain itu, lembaga ini juga berupaya untuk membantu tata kelola pengetahuan di masyarakat agar terbentuk budaya dan peradaban yang selaras dengan alam dan kelestarian hidrologi.

Adapun gagasan “Riset Integratif” dilandasi oleh semangat kolaborasi yang saling menguatkan. Dalam konteks ini, aktivitas riset yang dilakukan oleh berbagai bidang keilmuan di Walungan diibaratkan sebagai kepingan puzzle yang saling melengkapi satu sama lain. Dengan demikian, aktivitas riset tersebut mampu menghasilkan gambaran yang menyeluruh tentang Daerah Aliran Sungai dan masyarakat sekaligus berdampak secara positif terhadap manusia dan alam di sekitarnya.

Dalam aktivitasnya, Walungan mengembangkan pusat riset berbasis kompetensi perisetnya dan juga prioritas isu di wilayah penelitiannya. Sejauh ini, Walungan baru memiliki dua pusat riset, yaitu: Pusat Riset Iklim & Lingkungan yang dipimpin oleh Dr. Zamzam A.J. Tanuwijaya, M.Si. dan Pusat Riset Kinerja Bangunan yang dipimpin oleh Dr. Ery Djunaedy, S.T., M.Sc.