Ketika Ideologi Dipertanyakan Kembali

― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.

Memikirkan kehidupan adalah sebuah usaha untuk menuju kelayakan hidup; karena hidup yang tidak dipertanyakan, ujar Socrates, adalah hidup yang tidak layak dijalani. Adalah sebuah aksioma ketika membedakan manusia dengan ciptaan yang lain; yaitu terletak pada ada tidaknya ruang renung dan imajinasi. Manusia selalu memiliki satu titik dari kehidupannya yang dia bertanya-bertanya persoalan-persoalan fundamental tentang kehidupan, tentang konsep penciptaan, tentang kematian atau tentang keadilan.

Sementara untuk “mengetahui” bagi manusia adalah bukan hal yang mustahil; karena setiap manusia normal sesungguhnya dan pada hakikatnya dapat mengetahui (‘ilm) dan mengenal (ma’rifat), memilih dan memilah, menentukan hukum mana yang benar dan yang salah, mengetahui keadilan dan kedzaliman, dan lain sebagainya. Maka dengan segala proses itulah kita telah sampai dalam sebuah proses berfilsafat atau mencintai kebijaksanaan.

Pertanyaan kemudian yang muncul adalah; Bagaimana cara, dengan apa atau darimana manusia bisa mengetahui dan memastikan? Atau dengan meminjam istilah dalam diskursus filsafat modern: how is knowledge possible? Secara umum, manusia menerima segala jawab atas pertanyaannya melalui empat sumber yaitu persepsi indra, proses akal sehat, dan intuisi hati serta informasi yang benar (khabar shadiq)1

Pertama, persepsi indra meliputi yang lima (pelihat, pendengar, perasa, penyium, penyentuh), ditambah indra keenam berupa sensus communis (al-hiss al musytarak) yang merupakan daya ingatan dan memori, daya penggambaran atau imajinasi, dan daya estimasi. Kedua, proses akal sehat berupa penggunaan nalar dan alur berpikir yang dengannya manusia bisa berartikulasi, menarik premis-premis, membuat analogi dan berkesimpulan. Ketiga, sumber “mengetahui” adalah intuisi hati, dengan intuisi hati ini manusia menerima pesan-pesan metafisika, isyarat-isyarat alam atau Pencipta, menerima pencerahan (ilham) dan sebagainya. Kemudian, sumber keempat adalah dengan khabar shadiq, segala sumber yang bersandar pada otoritas. Dalam agama, segala firman dan ilmu dari Tuhan yang kebenarannya diterima dan diteruskan hingga akhir jaman adalah informasi yang benar (khabar shadiq).

Membicarakan kerangka berpikir

Telah menjadi perdebatan yang panjang tentang proses manusia mendapatkan apa yang disebut kebenaran. Perdebatan terjadi dari berbagai kalangan; kalangan yang mecoba menggunakan indra dan akal sebagai acuan utama, atau yang menggunakan pengamatan keadaan realitas (fenomena), atau kalangan yang mempertahan otoritas “informasi yang benar” yang berasal dari Tuhan sebagai sumber kebenaran, atau kalangan yang memisahkan atau mencampurkan segala acuan ilmu tersebut.

Karenanya dapat ditemukan muncul berbagai istilah tentang penafsiran ilmu seperti sekularisi ilmu, westernisasi ilmu, islamisasi ilmu dan segala istilah lainnya. Para pemikir barat, khususnya eropa, dengan segala pengalaman sejarah mereka kemudian cenderung menafikkan campur tangan agama atau Tuhan dalam proses manusia mengetahui kebenaran. Hal ini dimulai ketika filsuf barat, Rene Descartes (m.1650) memformulasikan sebuah prinsip, aku berpikir maka aku ada (cogito ergo sum). Dengannya Descartes telah menjadikan rasio satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran. Hal serupa juga dilakukan filsuf lain selanjutnya seperti Thomas Hobbes (m.1679), Immanuel Kant (m.1804) sampai Jurgen Habernas. Sementara kalangan pemikir timur, diwakili oleh cendikiawan muslim mempertahankan menggunakan epistemologi Islam yang berbeda dalam menentukan kebenaran. Hal ini telah dilakukan oleh kalangan ulama baik zaman dahulu seperti Imam Al Ghazali (m. 1111) sampai ulama modern seperti Prof. Al Attas, Syed Qutb, Syed Husain Nassser, hingga Hamid Fahmy Zarkasy.

Perbedaan yang terjadi kemudian membentuk berbagai kerangka dan metode yang berbeda yang dengannya digunakan sebagai acuan berpikir.  Dari kerangka-kerangka berpikir dasar tersebutlah nantinya akan mempengaruhi kita dalam berpikir, memandang segala sesuatu, dan meyakini kebenaran. Dalam istilah kekinian, mempengaruhi ideologi kita.

Ideologi Sebagai Sebuah Pertanyaan

Tak asing sepertinya istilah “ideologi” (idea dan logos) dalam kehidupan kita, terutama pada konteks kontemporer seperti ini. Secara umum kita dapat mengartikan ideologi sebagai sebuah gagasan dasar dan acuan dalam berperilaku. Sejarah telah banyak membicarakan cerita-cerita keperpengaruhan dari banyak ideologi, beserta karakternya masing-masing. Kita ketahui bahwa paling tidak hingga saat ini tiga gagasan besar muncul sebagai representasi dari masing masing ideologi; Liberalisme, Islam, dan Komunisme. Sebagai sebuah konsekuensi dari perbedaan pemikiran ini, maka definisi tujuan hidup, makna kebenaran dan keadilan semakin beragam lagi.

Pertanyaannya adalah, kemana kita akan berpijak?

Meyakini sebuah kebenaran ideologi artinya menggunakannya sebagai sebuah acuan bertindak dan menentukan segala macam solusi dalam menghadapi kehidupan. Perbuatan adalah cerminan pikiran, sementara pikiran adalah buah dari kepercayaan dari serangkaian nilai-nilai dasar yang dianut. Dengan kata lain apa yang kita yakini –secara ideologis- akan mempengaruhi segala perbuatan. Sebagai seorang muslim, acuan-acuan nilai agama adalah sebuah keniscayaan dan  keharusan yang digunakan sebagai sebuah seperangkat gagasan dasar dan acuan berperikalu sehingga dapat memberikan solusi menghadapi kehidupan. Dengan kata lain agama menjadi sebuah ideologi. Begitupun sama dengan golongan lain menggunakan ideologinya yang berbeda sebagai seperankat solusi dalam menghadapi kehidupan.

Dalam naskah agama kami temukan sebuah tujuan yang sama dari ideologi yang menjadikan sebuah gagasan-gagasan dasar sebagai seperangkat solusi dalam kehidupan.

maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.”2

…”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk…3

Muhammad S.A.W sebagai penyampai ajaran Islam menyebutkan, “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah (Qurandan Sunnah (Hadis) Nabi-Nya4

Walaupun demikian, sebenarnya terminologi ideologi dalam Islam sama sekali tidak dikenal sebelumnya; sejarah perkembangan dunia Islam tidak memperkenalkan gagasan gagasan dasar ini dengan istilah “ideologi”. Karenanya sebagai seorang muslim, ketika kita berbicara tentang “ideologi,” kita sebenarnya mengacu pada terjemahan dari kata bahasa Arab yang artinya adalah : “mabda’ ” yang berarti : 1 ) Dasar dimana sudut pandang kehidupan anda diatur, dari mana anda mengambilnya 2 ) seperangkat solusi untuk hidup sesuai dengannya. Sementara para cendikiawan muslim modern memilih mendefinisikan sebuah ideologi Islam sebagai Islamic Worldview, sebagai mana isitilah yang dipakai untuk western worldviewseculer worldview,  jews worldview dan lainnya. Bagi Prof. Naquib al-Attas worldview Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yaat al-Islam lil-wujud).5

Ideologi seorang Muslim

Islam yang turun, tulis Dr. Hamid Fahmy, membekali manusia dengan seperangkat ritus peribadatan untuk beribadah kepadaNya dan pada saat yang sama juga mengajarkan pandangan-pandangan (view) fundamental tentang Tuhan, kehidupan, manusia, alam semesta, iman, ilmu, amal, akhlak dan lain sebagainya. Dengan bekal seperti itu Islam kemudian merupakan agama (din) dan sekaligus peradaban (madaniyyah) yang memiliki bangunan konsep (conceptual structure) yang disebut pandangan hidup (worldview). Inilah konsep konsep dari Islamic Worldview yang melandasi seorang muslim dalam kehidupannya.6

Pertanyaan fundamental yang muncul sebagai seorang yang terpelajar adalah, apa hakikat dan tujuan pandangan hidup ini sebagai seorang muslim?

Tujuan ilmu dalam Islam, menurut Prof. Al Attas, adalah untuk menjadi manusia yang baik, manusia yang baik adalah manusia yang mengenal Tuhannya, tahu tujuan hidupnya. Karena segala macam pandangan hidup ini bermuara pada satu tujuan hakiki yaitu mengenal Tuhan dan mengetahui kenapa manusia diciptakan.7

Berlawanan dari pemikiran sekuler (seculum –keduniaan .penj) maka worldview (ideologi) dalam Islam menerangkan pula pandangan manusia tentang keadaan keadaan metafisika; tentang Tuhan, alam semesta, kehidupan setelah mati, kehidupan sebelum dilahirkan, surga, neraka, tentang jiwa dan ruh serta tentang segala macam hal yang tidak hanya ditangkap oleh indra (empiris). Selain itu Islam juga mengenal dua konsep dalam penerapan segala hukumnya; eksoteris (lahir) dan esoteris (batin), yang mana adalah sesuatu yang oleh peradaban barat tidaklah menjadi acuan dan indikator.

Pada akhirnya ketika ideologi seorang muslim dipertanyakan maka pandangan hidup seperti inilah yang akan keluar sebagai jawaban. Dengan Islamic Worldview seperti inilah seorang muslim hidup dan berperilaku (adab).

Sebuah pertanyaan akan menjadikan kita kembali berpikir tentang sebuah pandangan hidup, “Apakah kita menganggap bahwa hidup hanya berawal di sini (dunia) dan di sini pula akan berakhir? Pernahkan terlintas bayangan bahwa ada sebuah rentang waktu jauh sebelum kita terlahir didunia manusia secara hakiki telah ada dan bersama Tuhannya”

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi. …”8

Menjadi Seorang Muslim

Pada akhirnya, menjadi seorang muslim adalah sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi dan tanggung jawab yang besar. Sebab manusia memiliki kecenderungan untuk bebas, tak teratur, dan liar oleh hawa nafsu dan syahwat. Kecenderungan ini kemudian seolah dikekang dengan segala peraturan dan hukum dari pandangan hidup dalam Islam; syariat, hukum, fiqh, ancaman neraka, perintah, dan ibadah. Namun ketika dipahami dan direnungkan kembali apa sebenarnya dibalik itu maka, bukanlah sebuah kekangan dan larangan yang sebenarnya menjadi tujuan; karena seperti telah disampaikan sebelumnya tujuan hakiki dari Islamic Worldview adalah mengenal Tuhan. Dengan pengenalan ini muncul manusia manusia baik, manusia-manusia beradap seperti yang Al Attas kemukakan.

Sehingga layaklah sebuah ungkapan, “Hidup adalah antara pilihan dan memilih ; sementara memilih hidup adalah bukan pilihan, melainkan keberkahan. Lalu, siapa lagi yang lebih berhak kita pilih selain Pemberi Kerberkahan.” Sehingga siapa lagi yang berhak kita gunakan sebagai pandangan hidup selain yang datang dari Tuhan Semesta Alam.

Wallahu ‘Alam.

——

Daftar Pustaka

Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.

1Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, 2012. Jurnal Ta’dibuna. UIKA Bogor, nomor 2.

2[QS.Al-Maa-idah : 48]

3[Al Anaam : 61]

4[HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 899]

5S.M.N, al-Attas, “The Worldview of Islam, An Outline, Opening Adress”, dalam Sharifah Shifa al-Attas ed. Islam and the Challenge of Modernity, Proceeding of the inaugural Symposium on Islam and the Challenge of Modernity: Historical and Contemporary Context, Kuala Lumpur Agustus, 1-5, 1994, ISTAC, Kuala Lumpur, 1996, hal. 29

6Dr. Hamid Fahmy Zarkasy. http://hamidfahmy.com

7Adian Husaini. 2013. Filsafat Ilmu; Perspektif Barat dan Islam. Jakarta; Gema Insani.

8[Al Araf : 172]

Post a comment