Skip to main content
Foto Bersama Kegiatan Wali Pohon 31 Maret 2019 di Curug Luhur Cibodas

Program Wali Pohon : Hidupkan Kembali Bukit Tunggul

Ditulis Oleh : Fakhira Rifanti M.

Bukit Tunggul merupakan gunung tertinggi di kawasan Bandung Utara yang ketinggiannya mencapai 2200 m dpl. Gunung ini merupakan karunia besar yang berperan dalam menyokong kehidupan masyarakat Kampung Pasir Angling Desa Sunten Jaya yang tinggal di sekitar kaki gunung. Selain sering dijadikan objek wisata alam bagi para pendaki dengan keindahan hutan pinus, air terjun dan udara segar yang disuguhkannya, Bukit Tunggul yang juga sebagai hulu DAS Cikapundung memiliki sumber mata air bersih yaitu Batu Ngampar (Gambar 3). Sehingga, tak heran jika Bukit Tunggul berfungsi sebagai penyuplai air bersih harian bagi masyarakat.

 

Foto Bukit Tunggul, Lembang

Gambar 2. Foto Bukit Tunggul, Lembang

 

Dibalik hal tersebut, nyatanya sampai saat ini Bukit Tunggul masih menyimpan sejumlah permasalahan yang menarik para aktivis Walungan untuk menaruh perhatian lebih dalam. Pasalnya, Pepohonan dan tanaman tegakan di bukit ini masih minim sehingga mengganggu cadangan air dan bisa menyebabkan terjadinya bencana seperti longsor dan banjir. Ditambah lagi, seiring dengan musim kemarau yang akan menyapa Indonesia di pertengahan tahun, tentulah ketersediaan air bersih akan menjadi tantangan bagi masyarakat Angling baik warga biasa, petani maupun peternak. Oleh masyarakat Angling,  Aliran air dari Batu Ngampar ditampung ke sebuah bak penampungan air dan disalurkan ke pipa-pipa di seluruh Kampung. Bagi para petani, aliran air ini sangat diandalkan untuk menyirami tanaman sedangkan bagi para peternak, air digunakan sebagai sumber air minum sapi perah, ayam dan domba dan untuk memandikan hewan ternak. Dari sini, terlihat bahwa air menjadi penopang utama keberjalanan aktivitas masyarakat Angling sehingga menjaga sumber mata air tersebut menjadi hal yang fundamental.   

Sesuai dengan fokus Walungan yang bergerak di bidang konservasi mata air dan pelestarian fungsi hutan, pada hari Minggu, 31 Maret 2019 lalu, Yayasan Walungan melaksanakan kegiatan Program Wali Pohon. Bersama dengan 60 orang peserta wali pohon beserta Karang Taruna, Gapoktan Baraya Tani, Ecovillage dan masyarakat Angling lainnya, Walungan melakukan penanaman sejumlah 579 bibit tanaman tegakan di area outlet mata air Batu Ngampar, Bukit Tunggul. Bibit yang ditanam antara lain 500 pohon gamal, 60 kopi, 11 honje, 3 alpukat dan 5 jambu kristal. Adapun sasaran kegiatan ini antara lain untuk menghijaukan lahan kritis yang rawan banjir, menjaga kelestarian Sumber Daya Air dan memperoleh hasil produksi dari penanaman pohon yang bernilai ekonomis untuk dimanfaatkan masyarakat.

 

Peta

Gambar 3. Peta beberapa mata air (seke) di wilayah kecamatan Lembang. Kegiatan Wali Pohon dilaksanakan di area seke Batu Ngampar 1 dengan koordinat 6° 48' 44,410" S, 107° 42' 58,373" E dan Seke Batu Ngampar di koordinat 6° 48' 45,484" S, 107° 42' 58,346" E
 

Kegiatan Wali Pohon memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan kegiatan Reboisasi pada umumnya. Nama “Wali Pohon” memiliki esensi dimana para peserta dihimbau untuk benar-benar menjadi wali bagi pohon yang ditanamnya. Sebagai simbol, selama kegiatan setiap peserta harus berfoto bersama dengan pohon yang ditanamnya. Setelah penanaman selesai pun peserta didorong untuk ikut melakukan pemeliharaan pohon secara rutin berupa pembersihan gulma, pemberian pupuk organik hingga pemanenan. Ketua Program Wali Pohon yaitu Bapak Angger Pramunditto menegaskan beberapa hal tentang kegiatan ini.

“Kami ingin berkontribusi secara nyata dalam menjaga alam sebagai wujud menjaga kemakmuran bumi. Saya berharap kegiatan Wali Pohon ini tidak berhenti sampai disini tapi teman-teman yang lain juga bisa ikut memelihara pohon sebagai “walinya” untuk memastikan pohon yang kita tanam tumbuh tegak sampai panen dan hasilnya bisa dinikmati masyarakat sekitar”, tutur Bapak Angger.

14

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Suasana Penanaman Bibit Pohon oleh para Peserta Wali Pohon

Menelisik lebih dalam, Program Wali Pohon muncul dengan mempertimbangkan manfaat yang akan dibawa dari sudut pandang ekonomi dan sosial budaya masyarakat Pasir Angling. Dari kondisi masyarakat Angling sebagai petani dan peternak, program ini berpotensi diupayakan untuk mewujudkan konsep integrasi Hutan-Tani-Ternak di Kampung Pasir Angling. Konsep ini memiliki arti bahwa setiap komponen memiliki potensi yang bisa digunakan pada komponen lainnya sehingga mendukung terciptanya sustainability. Penanaman bibit pohon diharapkan dapat membantu mendukung fungsi ekologis hutan yaitu mengatur tata air, menyumbang oksigen dan menyerap karbondioksida, meningkatkan keanekaragaman hayati serta mencegah erosi. Selain itu, pohon juga bisa menjaga ketersediaan cadangan air untuk menunjang kebutuhan harian warga termasuk irigasi lahan dan keperluan peternakan. Lebih lanjut, pohon gamal (Gliricidia sepium) merupakan tanaman multiguna yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati, hijauan pakan ternak, mencegah penyakit pada ternak. Tanaman kopi dan honje dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi produk turunan yaitu produk roasted coffee dan sirup honje yang saat ini sedang dikembangkan untuk diproduksi dan dipasarkan yang diharapkan membantu menambah pendapatan masyarakat dan memberdayakan Kelompok Wanita Tani (KWT)  dan para pemuda-pemudi Pasir Angling. Kemudian, Pupuk organik yang akan digunakan sebagai pemeliharaan pohon juga berasal dari program pengolahan limbah sapi komunal yang sedang digalakkan Walungan sehingga pupuk organik dapat termanfaatkan dengan baik. Hal ini juga sebagai usaha mengajak warga sekitar untuk mengolah limbah kotoran ternak daripada membuang limbahnya ke sungai.

15

 

Riki Frediansyah sebagai Ketua Yayasan Walungan juga menambahkan hal menarik tentang visi Program Wali Pohon.

“Ke depannya, setelah program wali pohon berjalan selama 3-4 tahun, harapan saya kita bisa mengukur kembali debit air di Bukit dengan alat yang kita punya. Bisa ketahui dari sana, apakah akan terjadi peningkatan debit air. Hal ini merupakan kajian ilmiah yang dapat mengukur keberhasilan Program Wali Pohon”, jelas Riki Frediansyah.

Program Wali Pohon juga akan terus diupayakan untuk melakukan kegiatan bermanfaat lainnya. Beberapa kegiatan yang direncanakan ialah penanaman pohon di lokasi-lokasi lainnya, kajian ilmiah kesesuaian pohon dengan lahan serta menginventarisasi lahan kritis.

 

Sekilas Potret Kegiatan

16

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan Wali Pohon diikuti oleh sejumlah orang dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 di titik kumpul Kampung Pasir Angling yang diawali dengan briefing singkat oleh Riki Frediansyah. Pada waktu tersebut, Bapak Riki memaparkan hal-hal penting yang harus diketahui para peserta sebelum menaiki gunung. Peserta dihimbau untuk memperhatikan kondisi cuaca, medan, keselamatan diri hingga etika saat menaiki gunung untuk tidak berperilaku kasar dan tetap menjaga kebersihan hutan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Selama keberjalanan kegiatan, tampak para peserta menikmati proses pendakian yang dapat dibilang cukup menantang. Untuk sampai ke titik penanaman di ketiggian sekitar 1500 m dpl, para peserta harus menempuh pendakian sekitar 2 jam. Pada hari itu pun, medan yang harus dilalui tampak licin dan berbahaya akibat hujan deras yang mengguyur di hari sebelumnya. Bahkan di tengah-tengah pendakian, peserta kembali diguyur hujan sehingga tidak heran jika beberapa peserta terpeleset jatuh. Namun, dengan penuh semangat, semua peserta akhirnya berhasil tiba di titik penanaman pada jam 11.00. Menghabiskan sekitar 1 jam untuk penanaman bibit dan berfoto, para peserta pun kemudian turun melalui jalur berbeda yang mengarahkan pada Curug Luhur Cibodas. Setibanya di sana, peserta beristirahat sejenak sembari menikmati keindahan air terjun dan melakukan berfoto bersama. Pada sekitar pukul 13.30 para peserta tiba kembali di Kampung Pasir Angling.

 

17

Gambar 6. Suasana Pendakian Bukit Tunggul pada Kegiatan Wali Pohon

Salah satu peserta juga menceritakan kesan pesannya terhadap kegiatan ini. 

“Karena kegiatan Wali Pohon juga kegiatan alam jadi menyegarkan fisik. Yang lebih penting bahwa ini juga merupakan sebuah amal bakti untuk negeri. Saya harap bisa ikut serta juga untuk pemeliharaan pohonnya”, jelas Ibu Elia.

Semoga Program Wali Pohon dapat terus dilaksanakan dan membawa manfaat untuk masyarakat. Seperti yang telah diketahui, kegiatan penanaman pohon memiliki banyak dampak positif baik untuk keberlangsungan hidup manusia sekarang maupun di masa mendatang. Sebagai masyarakat yang cinta lingkungan alangkah baiknya kegiatan menanam pohon dibiasakan dan ditularkan kepada yang lain. Menanam pohon tidak harus dilakukan di Bukit tapi mulailah dari lingkungan yang paling dekat, dimana saja, kapan saja.